Successful Test Firing of India's Agni-5 Evokes No Fury - Bahasa

Kesuksesan Uji Tembak Agni-5 Milik India Tak Menimbulkan Amarah

Photo: India's longest range nuclear capable missile Agni-5 was successfully test fired from the Kalam Island off Odisha coast on January 18 by the Defence Research and Development Organisation (DRDO). Source: NDTV

Oleh Kalinga Seneviratne

BANGKOK (IDN) – Kesuksesan peluncuran rudal balistik antar benua berkemampuan nuklir (ICBM) Agni-5 pada 18 Januari nyaris luput dari perhatian di Asia. Namun media barat memusatkan liputan pada kemampuan India saat ini untuk menyerang kota-kota besar Tiongkok termasuk Beijing dan Shanghai.

Liputan setengah menyanjung ini sangat kontras terhadap histeria media barat khususnya saat Korea Utara menguji rudal serupa pada 28 November 2017. Ketika pengujian oleh Korea Utara dianggap sebagai ancaman terhadap usaha denuklirisasi global, tidak begitu halnya dengan India.

Seperti yang ditulis Eric Margolis dari HuffPost, "Delhi telah menutupi pengembangan ICBM di balik program peluncuran ruang angkasa" dan saat Korea Utara mencoba untuk meletakkan satelit ke orbit, AS “menyindir” bahwa pendorong yang bisa menempatkan satelit di orbit juga bisa mengirimkan hulu ledak nuklir.

"Untuk saat ini, India adalah sekutu dekat AS, dan penerima bantuan dari AS dan Israel untuk pembangunan senjata nuklir. Washington telah menutup mata terhadap penolakan India untuk bergabung dalam  HYPERLINK "https://www.un.org/disarmament/wmd/nuclear/npt/text/" Perjanjian Nonproliferasi Nuklir dan diam-diam telah merestui program nuklir ekstensif Delhi sebagai penyeimbang regional Tiongkok,"  HYPERLINK "https://www.huffingtonpost.com/eric-margolis/india-missile-test_b_1441128.html" tulis Margolis.

Ini adalah isu yang langsung ditolak Tiongkok. Setelah kendaraan peluncur sukses diuji pada 26 Desember 2016, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying membantah laporan media India dan luar negeri yang memberitakan kemampuan rudal untuk menyerang kota-kota Tiongkok dengan hulu ledak nuklir.

Menekankan bahwa Dewan Keamanan PBB memiliki regulasi eksplisit terhadap apakah India dapat mengembangkan rudal balistik pembawa senjata nuklir, beliau seperti yang diberitakan Hindustan Times mengatakan: "Tiongkok dan India telah mencapai konsensus penting bahwa kedua negara bukan rival dalam kompetisi tetapi mitra dalam kerjasama sebagai dua negara yang sedang berkembang secara signifikan."

Hua menambahkan: "Kami juga berharap bahwa media relevan dapat memberitakan secara obyektif dan bijaksana serta berkontribusi lebih banyak lagi untuk kepercayaan mutual antara Tiongkok dan India serta stabilitas dan perdamaian regional."

Kesuksesan peluncuran rudal Agni-5 pada 18 Januari, terjadi sehari setelah latihan laut bersama India dan Jepang di Samudra Hindia. India, Jepang, AS dan Australia baru saja mengumumkan formasi aliansi pertahanan yang diharapkan dapat meningkatkan kerjasama antar militer sebagai cara untuk mengendalikan Tiongkok.

Editorial terkini  HYPERLINK "http://www.globaltimes.cn/content/1085141.shtml" Global Times Tiongkok menyerukan pada media India untuk menahan diri dari memberitakan komentar pedas oleh militer India terhadap ancaman Tiongkok. "Sejak awal 2018, tentara India telah mengemukakan komentar pedas kepada Tiongkok dari waktu ke waktu. Pimpinan Tentara India Jenderal Bipin Rawat minggu lalu mengatakan bahwa India harus mengubah fokus ke perbatasan dengan Tiongkok,” tulis editorial pada 16 Januari. "Media India telah membesar-besarkan semua yang diperoleh dari militer, menyetujui ucapan agresif tentara dan mengarang skenario bahwa Tiongkok melanggar dan memprovokasi India."

"Interaksi terkoordinasi antara tentara dan media India telah menambahkan banyak kesan negatif rakyat India terhadap Tiongkok," tulis Global Times menekankan bahwa ini berlawanan dengan pandangan Kementerian Urusan Luar India yang mengatakan bahwa status-quo berlaku di perbatasan menyusul  HYPERLINK "http://www.globaltimes.cn/content/1062419.shtml" Kebuntuan Doklam pada 2017 di perbatasan India-Tiongkok-Bhutan.

Editorial memberikan penilaian tanpa basa-basi: "Dalam mempelajari tentang Tiongkok, masyarakat India telah disesatkan oleh keinginan egois militer untuk memperbesar bujet dan memperoleh pengaruh yang lebih besar dalam relasi luar negeri negara, dan orientasi pasar media terhadap pemberitaan yang menarik. Hasilnya, pendekatan garis keras ke Tiongkok adalah kebenaran politik di India dan negara tersebut dikesampingkan oleh AS, Jepang dan Australia."

Sementara, menurut laporan media Tiongkok, ahli nuklir Tiongkok menyangsikan kemampuan rudal Agni-5 untuk menyerang kota-kota Tiongkok dengan hulu ledak nuklir, mereka menekankan pada tantangan terhadap Perjanjian Nonproliferasi Nuklir oleh pengujian ini.

Bertumbuhnya kemampuan nuklir India dan aliansi militernya di kawasan dapat menjadi kekuatan tempur di masa depan, yang dapat mengganggu Inisiatif Jalan dan Sabuk (BRI) ambisius Tiongkok menurut pendapat Song Zhongping, ahli militer dan komentator TV, dalam sebuah wawancara dengan Global Times.

Ia mengatakan bahwa karena Samudra Hindia dijadikan kawasan “wajib masuk” untuk BRI, dan juga sebagai bagian dari strategi nasional dalam membangun Tiongkok menjadi kekuatan maritim, Tiongkok juga harus meningkatkan kehadiran ekonomi dan militernya di Samudra Hindia.

Kemampuan ICBM yang telah terbukti saat ini hanya terdapat di lima negara besar utama – AS, Rusia, Prancis, Inggris dan Tiongkok – semua merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Sehingga, Margolis merefleksikan pada alasan lain dari uji terkini India: "Alasan paling masuk akal India menginginkan ICBM adalah prestise dan kursi di Dewan Keamanan PBB."

Saat Barat senang melihat Asia tumbuh menjadi lahan subur untuk nuklirisasi dan konfrontasi militer, kurangnya liputan terhadap uji Agni-5 India di Asia merefleksikan pandangan bahwa kerjasama ekonomi lebih disukai daripada pamer nuklir.

Dengan pencegahan diplomasi Olimpiade Musim Dingin antara Korea Utara dan Selatan ada perasaan lega bahwa ini dapat mengarah pada menurunnya ketegangan di kawasan – sesuatu yang banyak orang di Asia cenderung percaya dipertahankan oleh AS dan terutama Presiden Donald Trump.

Sebuah opini yang ditulis oleh Ravi Vellore, Rekan Editor  HYPERLINK "http://www.straitstimes.com/opinion/peace-in-korean-peninsula-dont-hold-your-breath" Strait Times Singapura merefleksikan suasana ini: "[Pemimpin Korea Utara] Tn. Kim [Jong-un] bergerak setelah melihat dari pentingnya program senjata nuklir berskala penuh yang terkalkulasi untuk membangun pencegah yang menakutkan bagi dirinya sendiri."

Ia menemukan bahwa "sulit untuk memutuskan apakah harus geram terhadap keberanian Tn. Kim atau mengagumi kegigihannya," dan menambahkan: "Tawaran perdamaiannya datang dengan ciri khas kesombongannya dan beliau meyakinkan bahwa itu tidak ditargetkan ke Seoul meskipun beliau masih menganggap AS sebagai musuh, sehingga memberikan keistimewaan penting namun halus untuk saudara Korea Selatannya untuk mempertimbangkan."

Vellore yakin: "Sudah waktunya kita mengakui bahwa jauh dari menjadi orang gila yang nekat, Tn. Kim adalah operator lihai dengan perasaan yang tajam pada pemilihan waktu, dan pikiran rasional yang menilai situasi dengan cakap. Ini menempatkan dirinya pada liga yang berbeda dari lawannya yang memiliki tombol nuklir lebih besar."

Ia menambahkan: "Insting Tn. Trump untuk memutuskan perjanjian nuklir yang telah dicapai dengan Iran akan memberikan jeda bagi bangsa lain yang berencana untuk mengadakan pembicaraan denuklirisasi serupa dengan AS. Tn. Kim mungkin membaca dokumen pengarahannya dengan hati-hati. Dan beliau mungkin bertanya-tanya apa gunanya apabila jaminan yang sungguh-sungguh tidak dihormati."

Para pengamat menganggap luar biasa bahwa Singapura, sekutu tradisional AS memiliki reservasi tentang kebijakan nuklir Trump. Bahkan, Vellore menekankah bahwa perdamaian abadi di semenanjung Korea tak dapat terwujud tanpa adanya persetujuan antara AS dan Tiongkok, dan mungkin juga Rusia. Tetapi baik Beijing maupun Moskow tidak diundang dalam pembicaraan yang difasilitasi oleh Kanada, yang ditutup pada 16 Januari. Ini hanya terdiri dari para sekutu barat yang terlibat di Perang Korea lebih dari 50 tahun yang lalu. [IDN-InDepthNews – 21 Januari 2018]

Search

Newsletter

Toward a World Without Nuclear Weapons 2017

Newsletters April 2016-March 2017

Newsletter Archive 2009-2015

QR Code

QR-Code

Donate

Help us raise awareness of the compelling need to phase out all atomic arsenal as a first step toward ushering in a nuclear weapons free world.